Balaraja Pernah Jadi Ibukota Tangerang - Balaraja untuk kita semua

Breaking

Friday, September 16, 2011

Balaraja Pernah Jadi Ibukota Tangerang


Tulisan ini mungkin isinya sangat terbata-bata. Karena kami susun dari berbagai sumber yang bertebaran di internet. Maksud Tulisan ini Untuk lebih memperkaya catatan tentang sejarah Balaraja yang kita cintai.



Era Kolonial



Pada tahun 1836 di Balaraja terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Nyai Gumparo (Nyai Gamparan/Nyimas Gamparan). Yang kemudian dapat dipatahkan oleh demang R. Kartanagara yang kemudian atas jasanya menangkap Nyimas Gamparan ia diangkat oleh Belanda menjadi bupati Lebak Meski pun pemberontakan ini dapat dipadamkan, namun pengikut-pengikutnya yang dapat meloloskan diri, tetap berusaha kembali meneruskan perlawanan.

Era Jepang

Untuk menyerang Batavia, pasukan Jepang, yang diperkirakan berjumlah 30.000 personil, dibagi dalam dua kolone. Kolone pertama yang langsung dipimpin oleh Imamura, berangkat melalui arah Serang - Balaraja - Tangerang menuju Batavia; sedangkan kolone kedua melalui arah Serang - Rangkasbitung - Leuwiliang menuju Bogor. Tanggal 5 Maret 1942, kolone pertama sampai ke Batavia yang dengan leluasa dapat menguasai kota, karena sehari sebelumnya tentara Belanda mundur menuju Bandung melalui Bogor dan Sukabumi; dan menyatakan 'Batavia kota terbuka untuk menerima kedatangan serdadu utusan Tenno'. Pada hari yang sama kolone kedua telah memasuki kota Bogor, dan berhasil mencerai-beraikan perlawanan Belanda (Pemda Jabar, 1972: 222).

KOMPI IV TKR Balaraja

Empat hari setelah penyerbuan ke markas tentara Jepang, pada tanggal 14 Oktober 1945 diadakan rapat pembentukan Divisi I Komandemen Jawa Barat Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bertempat di markas BKR di Jalan Palem, Serang. Pembentukan Divisi I Komandemen Jawa Barat itu didasarkan surat Komandan Komandemen Jawa Barat, Mayor Jendral Abdulkadir, yang dibawa oleh Mayor Soeroto Koento, 12 Oktober 1945. Dalam surat perintah Komandemen Jawa Barat itu juga dilampirkan Maklumat Pemerintah No. 5 (tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat) dan Pola Organisasi Devisi.



Dalam rapat pimpinan BKR itu diputuskan untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi I Banten, diantaranya:



” Divisi I Komandemen I Jawa Barat yang dibentuk itu diberi nama Divisi 1000/I (dibaca: divisi seribu satu) dengan wilayah meliputi seluruh Karesidenan Banten dan sebelah barat Sungai Cisadane, dari pantai utara sampai pantai laut selatan.”



Pada permulaan terbentuknya Divisi 1000/I terdiri dari 2 resimen infantri yang masing-masing berkekuatan 3 batalyon. Setiap batalyon membawahi 4 kompi dan setiap kompi mempunyai 4 seksi; tiap seksi membawahi 4 regu yang masing-masing regu terdiri dari 14 orang prajurit.



Kecuali pasukan Infantri juga terdapat Pasukan Khusus yang terdiri dari eks yugekitai dipimpin oleh eks syodanco yugeki Ali Amangku. diantaranya



Di Balaraja di bentuk Kompi IV. Pasukan yang terakhir ini merupakan pasukan pengintai langsung di bawah komando Divisi -- pasukan pengintai inilah yang kemudian menjadi Polisi Tentara Batalyon XI Divisi 1000/I.



Kompi IV; yang berkedudukan di Balaraja ini merupakan kompi mobile khususnya dalam penguasaan teritorial, kompi yang selalu di Sektor I, yang terdiri dari:



Komandan Kompi : Kapten R. Mahdi Winatapradja
Kepala Staf : Letnan II Tb. Mardjuki
Kepolisian : Letnan Muda M. Djidun
Sekretariat : Letnan Muda Herman
Seksi khusus di Curug : Letnan I Siswoyo
Komandan Seksi I : Serma M. Mursyid
Komandan Seksi II : Serma Karmail
Komandan Seksi III : Serma Chaidir
Komandan Seksi IV : Serma Tb. Subli


PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN



Dengan masuknya tentara Sekutu yang diwakili oleh Inggris ke Indonesia, masuk pulalah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration (NICA).



Pemuda-pemuda pejuang dari Jakarta, yang kemudian terdesak oleh serangan pasukan NICA, banyak yang pindah ke Tangerang. Dan, dengan alasan mengejar para perusuh, akhirnya pasukan NICA pun masuk ke kota Tangerang dan mengultimatum agar kota Tangerang dikosongkan; pejuang-pejuang harus mundur 4 km, sampai di sebelah barat Cisadane. Ultimatum Sekutu itu disebarkan melalui udara pada tanggal 14 Mei 1946, dengan disertai penjelasan bahwa pihak Pemerintah RI telah menyetujuinya. Tiga hari kemudian, 17 Mei 1946, pasukan NICA telah berhasil menduduki Serpong.



Dalam pada itu, untuk menghindari banyaknya korban rakyat, TRI Resimen 40 Divisi II Tangerang atas perintah komandan Divisi II, diintruksikan supaya segera meninggalkan kota Tangerang tanpa mengadakan perlawanan kepada tentara Sekutu. Sedangkan pemerintahan sipil Tangerang dipindahkan ke Balaraja, selanjutnya Balaraja dijadikan Ibukota Kabupaten Tangerang.



Dengan mundurnya TRI dari kota Tangerang, maka dengan leluasa pasukan Sekutu dan NICA pada tanggal 28 Mei 1946 sepenuhnya menguasai kota (Madiyah, t.t.: 60).

Dalam pada itu di Serang, dengan dikuasainya kota Tangerang yang merupakan pintu masuk ke daerah Banten, Komandan Brigade I Tirtayasa, Kolonel K.H. Suam'un, segera mengintruksikan beberapa batalyon TRI untuk memperkuat pasukan di daerah perbatasan.



Di daerah Balaraja, ditempatkan batalyon yang dipimpin oleh Supaat; di jurusan Curug, Pasargenjer dan di Binong ditempatkan Kompi Subki; sedangkan di Cijantra ditempatkan Kompi Sanusi -- yang kedua-duanya dari PT Batalyon XI Banten.



Serangan serdadu NICA ke Jatiuwung memaksa TRI mundur ke Cikupa. Pada tanggal 16 Juni 1946, dengan menggunakan senjata dan perlengkapan perang modern, NICA mengadakan serangan mendadak ke Curug, Mauk dan Balaraja, sehingga terpaksa pasukan Resimen 40 Tangerang kembali mundur sampai ke daerah Cikande.



Penguasaan daerah Balaraja oleh serdadu NICA itu tidak berlangsung lama, karena setelah itu, mereka pun kembali ke pangkalannya di Tangerang. Pemerintahan sipil Tangerang kembali berfungsi dari Balaraja.
Disusun Oleh: Abu Gesper Dari berbagai sumber:

Semoga bermanfaat

No comments:

Post a Comment