PERTEMPURAN DAN PENDUDUKAN BALARAJA OLEH BELANDA - Balaraja untuk kita semua

Breaking

Friday, October 28, 2011

PERTEMPURAN DAN PENDUDUKAN BALARAJA OLEH BELANDA




Setelah Persetujuan Renville ditandatangani, pertalian pada Pemerintah RI dan Belanda selalu tegang. TNI udah memperkirakan bahwa Belanda akan jalankan serangan kembali, tapi hanya waktunya yang tidak diketahui. Gejala akan datangnya serangan itu udah dirasakan pada mulanya oleh pimpinan TNI semenjak Belanda mencoba untuk mengulur-ulur sementara berkenaan perundingan pelaksanaan persetujuan itu.

Berhubung serangan tentara Belanda udah diperkirakan akan berlangsung lagi, maka TNI mengadakan persiapan-persiapan. Belajar dari pengalaman Agresi Militer Belanda Pertama, maka sistem pertahanan Linier diganti bersama dengan sistem perang Wilayah (wehrkreise), yang pada pokoknya membagi daerah pertempuran didalam lingkaran-lingkaran yang bisa berdiri sendiri. Sistem Pertahanan Linier adalah Sistem Pertahanan Konvensional. Dalam sistem ini pasukan-pasukan yang bertahan pada pos-pos yang diperkuat (strong point) untuk mempertahankan suatu daerah dari barangkali serangan.


Dalam daerah wehrkreise, semua tenaga manusia, material dan bahan-bahan yang ada diintegrasikan. Dalam segi militer, rancangan trick ini disempurnakan bersama dengan taktik perang gerilya. Selain itu, pasukan-pasukan yang pada mulanya hijrah akibat dari Persetujuan Renville mesti menyusup ke daerah musuh untuk lagi ke daerah asalnya. Gerakan penyusupan lagi ini kondang bersama dengan “LONG MARCH DIVISI SILIWANGI”.

Rencana ini tertuang didalam Instruksi Panglima Besar TNI tanggal 9 Nopember 1948 yang dikenal bersama dengan “PERINTAH SIASAT NO.1” yang isinya pada lain sebagai tersebut : Pertama adalah tugas untuk memperlambat serangan Belanda, jalankan pengungsian dan jalankan BUMi HANGUS secara total. Kedua adalah tugas membawa dampak kantong-kantong disetiap kewedanaan (onder distrik) militer.

Sehubungan bersama dengan Instruksi tersebut, tidak lama kemudian Brigade Tirtayasa udah merampungkan garis besar rancangan pertahanan dan rancangan itu dikirim kepada Komandan Batalyon masing-masing didalam Amplop yang disegel. Pada dasarnya, rancangan itu terdiri dari dua fase. Pada Fase Pertama, TNI jalankan gerakan penghambatan dan penguluran sementara pada jalannya serangan. Bentuknya pada lain bersifat pengrusakan jalan-jalan yang strategis, penghancuran jembatan-jembatan juga jembatan kereta api pada Parungpanjang dan Rangkasbitung, pembuatan rintangan-rintangan dijalan bersama dengan pohon-pohon, penghancuran semua bangunan penting dan besar layaknya pabrik, kantor telpon dan transformasi listrik yang nantinya menjadi sarana untuk jalannya suatu pemerintahan.


Menjelang dilancarkan Agresi Militer II, kedudukan Staf Brigade Tirtayasa dipindahkan dari Serang ke Rangkasbitung menduduki Hotel De Vries, tetapi Staf Operasi diletakkan di Maja, sebagai pasukan pengawal yaitu Seksi Strootroep (Pasukan Pendobrak) pimpinan Letnan II MA. Hasan dan Kompi Fisabilillah dari Resimen Singandaru pimpinan Letnan I Endjon Djajaroekmantara. Setelah Rangkasbitung diduduki Belanda, staf Brigade Tirtayasa rubah lagi ke Leuwidamar.

Dalam Fase Pertama ini di Balaraja diletakkan Batalyon II pimpinan Djaelani hadapi Front Tangerang, khususnya jalur raya pada Tangerang dan Serang.

Jika rancangan yang mesti dijalankan didalam fase ini tidak bisa dilanjutkan secara otomatis meningkat ke FASE KEDUA, yaitu perang Gerilya Total. Pos Komando Operasi Brigade diletakkan di Maja dibawah Kepala Staf Operasi Brigade Tirtayasa, Mayor R.Prijatna.

Serangan Militer Belanda yang udah diperkirakan akan datang, terbukti pada tanggal 19 Desember 1948 tentara Belanda dibawah Pimpinan Letnan Jenderal Spoor melancarkan Agresi Militer Keduanya. Yogyakarta, ibu kota Pemerintah RI, terserang dan diduduki. Pemimpin-pemimpin RI juga Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan. Gerakan Militer Belanda berlangsung cepat, kota-kota mutlak bisa dikuasai oleh Belanda. Selanjutnya, dijalankan pembersihan yang diperkirakan memakan sementara dua atau tiga bulan.

Dua hari sehabis Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua, Komando Brigade Tirtayasa, Letnan Kolonel dr.Edi Soedewo, yang komadan operasinya berkedudukan di Maja, mengeluarkan perintah operasi pada semua Batalyon yang ada disepanjang garis demarkasi untuk mendahului menyerang adalah batalyon Pimpinan Djaelani di Balaraja, Batalyon Pimpinan Soepaat di Sektor Parungpanjang, Batalyon pimpinan Sholeh Iskandar di Leuwiliang dan Batalyon Pimpinan Husein Wangsaatmaja di Sektor Cikotok.


Perintah itu dijalankan tanpa persiapan dan penyelidikan lebih dahulu, Batalyon pimpinan Djaelani yang berkedudukan di Balaraja pada tanggal 22 Desember 1948 pukul 04.00 merasa menyerang kedudukan tentara Belanda disepanjang garis demarkasi bersama dengan target pada lain untuk mengintimidasi, mengacaukan persiapan-persiapan tentara Belanda, melindungi pelaksanaan pembuatan rintangan-rintangan di Jalan Raya, menghancurkan jembatan-jembatan dan secara psikologis untuk memelihara impuls juang prajurit.

Tentara Belanda bergerak didalam beberapa Pasukan Tempur yang masing-masing merupakan Batalyon Tim Pertempuran (BTP) yang berdiri sendiri, yaitu dari Tangerang, Serpong, Bogor dan Pelabuhan Ratu. Disamping itu, Angkatan Udara Belanda menunjang menyerang Kota Serang, Pandeglang dan Rangkasbitung, tetapi Angkatan Laut Belanda menunjukkan diri didekat Anyer dan Pontang.

Pada tanggal 23 Desember 1948, kolone pertama dipantai utara, berangkat dari Tangerang pukul 06,00 menuju Serang bersama dengan kekuatan satu Batalyon Infantri yang dibantu oleh Artileri Lapangan, satu peleton Mitraliur, dua peleton Zeni dan satu kompi Pasukan bermotor yang dipelopori oleh satu skuadron kavaleri lapis baja. (kolone berasal dari kata colonne artinya “susunan memanjang dari barisan”)

Kolone utara ini dipecah menjadi dua, yaitu beberapa lewat Mauk dan beberapa lagi segera menuju Serang. Pukul 08.00 beberapa pasukan yang lewat Mauk menduduki daerah itu. Dari Mauk beberapa pasukan terus bergerak ke Barat menuju Jenggot dan seterusnya membelok ke Selatan menuju Balaraja lewat Kresek untuk mengepung Balaraja.

Sementara itu beberapa besar Pasukan yang melalui Jalan Raya pada Tangerang dan Balaraja bergerak ke barat.

Induk pasukan Batalyon pimpinan Djaelani yang bertugas untuk mempertahankan Balaraja terpukul oleh Skuadron lapis baja Belanda yang bergerak cepat, Balaraja diduduki Belanda. Komandan Batalyon dan stafnya tertangkap. Skuadron Kavaleri Belanda terus bergeral ke Barat melalui Jembatan Sungai Cimanceuri yang tidak dihancurkan oleh TNI. Sebelum melalui jembatan Sungai Ciujung, beberapa kecil pasukan membelok ke Selatan menuju Pamarayan dan seterusnya menuju Rangkasbitung. Pasukan yang kebarat, sehabis melalui Jembatan Sungai Ciujung di Ciruas, beberapa kecil menuju utara ke arah Pontang, tetapi beberapa besar pasukan terus bergeral ke Barat menuju Serang.

Sebelum pasukan Belanda memasuki kota Serang, kira-kira pukul 09.00 singgah pesawat terbang Belanda menjatuhkan Pamflet di Pasar Royal dan di Asrama Sekolah Guru di Serang. Ada tiga lembar pamflet yang masing-masing tertanda Jenderal Spoor.


•Pamflet Pertama ditujukan kepada Rakyat Banten, isinya kira-kira sebagai beriku “ Tentara Belanda akan masuk ke Serang. Kami yakin bahwa orang Banten itu adalah masyarakat yang patuh pada agamanya, yaitu Islam. Kami akan sediakan kapal bersama dengan Cuma-Cuma untuk menunaikan Ibadah Haji. Harap tenang dan sambutlah kami bersama dengan baik”.

•Pamflet kedua, ditujukan kepada Pegawai Negeri yang bunyinya kira-kira sebagai tersebut : “Pamongpraja sehingga menggerakkan tugas dikantornya masing-masing dan harap tenang. Kami akan masuk dan tidak berbuat apa-apa, sehingga disambut bersama dengan baik”

•Pamflet Ketiga ditujukan kepada Polisi dan Tentara yang bunyinya kira-kira sebagai tersebut : “Polisi dan tentara sehingga meletakan senjata. Jangan mengadakan perlawanan sebab kami pun tidak masuk bersama dengan kekerasan. Sambutlah kami bersama dengan baik”.


Selain menjatuhkan Pamflet, pesawat terbang itu juga melemparkan tembakan sehingga ada orang yang menjadi korban. Sekitar pukul 12.00 pasukan Belanda masuk kota Serang bersama dengan didahului oleh Panser yang kemudian diikuti Tank Lapis Baja, mobil-mobil pengangkut pasukan dan mobil pengangkut perlengkapan senjata beserta mesinnya. Iring-iringan bergerak tanpa mendapat perlawanan. Sambil bergerak, pasukan melancarkan tembakan terkecuali muncul ada sesuatu yang mencurigakan. Oleh sebab itu, ada korban yang terkena peluru nyasar.

Tembakan juga dilancarkan ke Kantor Kabupaten Serang. Setelah sukses masuk tanpa suara perlawanan sedikitpun, sebab TNI udah mundur, pukul 15.00 Pasukan Belanda menduduki kota itu.

Induk Pasukan BTP Belanda tiba di Serang yang segera memulai aksi pembersihan. Batalyon CPM dan Batalyon pimpinan Djaelani mempertahankan daerah pada Balaraja dan Serang. Sebagian Pasukan hansur, sisa-sisanya disapu bersih, ditawan, menyerah dan menyamar sebagai rakyat biasa. Dari sini mereka menduduki kota-kota distrik di Kabupaten Serang layaknya Ciruas, Pontang, Cilegon, Ciomas dan Anyer. Esok harinya Komandan Operasi Militer Belanda menduduki markasnya di Serang.


Disusun oleh Abu Gesper Dari berbagai sumber
SEMOGA BERMNAFAAT