Sejarah "Het Paleis te Buitenzorg" - Balaraja untuk kita semua

Breaking

Monday, September 6, 2021

Sejarah "Het Paleis te Buitenzorg"


Seiring dengan perkembangan, kota Batavia menjadi semakin ramai dan membuat banyak orang-orang belanda yang bekerja di kota ini melakukan pencarian tempat yang ingin dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan terlalu ramai sehingga mereka perlu mencari tempat-tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.

Gubernur Jenderal Belanda, G.W. Baron van Imhoff, juga melakukan pencarian seperti itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung. Adapun kampung tersebut bernama Kampong Baroe, pada 10 Agustus 1744.

Buitenzorg,Lukisan Josias Cornelis Rappard (1824-1898)

Selain itu, ia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Dilansir laman resmi Sekretariat Negara, penamaan Buitenzorg itu termasuk wilayah perkampungan di sekitarnya, yang kini dikenal sebagai kota Bogor. 

Namun proses pembangunan tidak juga selesai hingga masa dinas sang gubernur ini berakhir, Dan bangunannya masih jauh dari selesai. Ia kemudian digantikan oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1750-1761). Yang kemudian melanjutkan proses pembangunan gedung ini.



Pada masa pemberontakan  Banten di bawah pimpinan Kyai Tapa dan Tubagus Buang yang terjadi pada 1750-1754. Pasukan-pasukan Banten dengan gagah berani menyerang Kampong Baroe dan membakarnya. Dan mengakibatkan bangunan ini rusak parah.  (silahkan baca artikel terkait pemberontakan banten tersebut disini).

Masih pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, pergantian para gubernur jenderal Belanda itu mengakibatkan berbagai perombakan menimpa pesanggrahan impian.

Salah satunya terjadi pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811). Gedung atau pesanggrahan itu diperluas, dengan memberikan penambahan lebar baik ke sebelah kiri maupun ke sebelah kanan gedung.

Selain itu, gedung induk dijadikan dua tingkat. Perhatian terhadap perluasan bangunan itu pun terus berlanjut.

Perubahan besar terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826). Di tengah-tengah gedung induk didirikan menara dan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada 18 Mei 1817.



Kebun Raya didirikan oleh seorang guru besar bernama C.G.C. Reinwardt, yang pada saat itu menjabat Direktur Urusan Pertanian, Kerajinan dan Ilmu-Ilmu di Hindia Belanda. Namun, musibah datang kembali pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi mengguncang Istana tersebut sehingga rusak berat.

Berbagai upaya penyelesaian dan penyempurnaan atas Istana terus dilakukan. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Yacob Duijmayer van Twist (1851-1856), bangunan lama yang terkena gempa, dirubuhkan dan dibangun kembali menjadi bangunan baru satu tingkat dengan mengambil arsitektur Eropa Abad IX.

Selain itu, dibangun pula dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung.

Penyelesaian bangunan  selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861).

Sembilan tahun kemudian, pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. 

Sebanyak 44 gubernur Jenderal Belanda pernah menjadi penghuni Istana Kepresidenan Bogor ini. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer, yang secara terpaksa harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang.

Pada akhir Perang Dunia II, Indonesia menyatakan kemerdekaannya dan Jepang bertekuk lutut kepada tentara Sekutu. Sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) menduduki Istana Buitenzorg seraya mengibarkan Sang Saka Merah Putih. 

Sayangnya, tentara Ghurka datang menyerbu. Para pemuda dipaksa keluar dari istana. Buitenzorg yang namanya kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor diserahkan kembali kepada pemerintah Republik Indonesia pada akhir 1949.

Setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada Januari 1950. Sedikit demi sedikit istana ini mengalami perubahan. Pada 1952 bagian depan Gedung Induk hanya mendapat tambahan bangunan berupa sepuluh pilar penopang bergaya Ionia yang menyatu dengan serambi muka yang bertopang enam pilar dengan gaya arsitektur yang sama. Selain itu, anak tangga yang semula berbentuk setengah lingkaran diubah bentuknya menjadi lurus. Kemudian, setiap jembatan kayu lengkung yang menghubungkan Gedung Utama dan Gedung Sayap Kiri dan Sayap Kanan diubah menjadi koridor.

sumber: kompas.com



1 comment:

  1. Memperkenal sejarah pd generasi muda yg menjadi modal dasar perjuangan dn penuh rasa memiliki terhadap negeri yg akan diwarisi dari generasi ke generasi, salam satu dari anak negeri yg mencintai.

    ReplyDelete