SYEKH ASTARI KRESEK,SANG PENUNTUT ILMU YANG PENUH KAROMAH - Balaraja untuk kita semua

Breaking

Thursday, July 11, 2019

SYEKH ASTARI KRESEK,SANG PENUNTUT ILMU YANG PENUH KAROMAH

Syekh Astari lahir di Kampung Cakung Kedung, Desa Kandawati, Kecamatan Gunung Kaler (pamekaran dari kecamatan kresek), Kabupaten Tangerang, Banten. Dari sang ayah Maulana Ishaq dan ibu Nyi Ratu Nasiah  yang merupakan pedagang dan guru mengaji anak-anak di kampung cakung.

Syekh Astari belajar agama dari sang ayah dan juga sang paman Muhammad Zhein yang juga seorang ulama. Menginjak masa remaja, Syekh Astari nyantri di pesantren Syekh Jaliman di Bunar Pematang (Daerah Cikeusal Serang)


Di pesantren ini Syekh Astari satu kamar dengan 8 orang temannya yang kelak kesemuanya menjadi ulama besar. yaitu:


  • Syekh Nawawi Mandaya
  • Syekh Umar Rancalang,
  • Syekh Ardani Dangdeur
  • Syekh Balqi Paridan
  • Syeikh Hamid Banten Girang
  • Syeikh Sadeli Bogeg
  • Syekh Jamhari
  • Syekh Mustaya Binuang
  • Ki Kharis Cisimut.

Di dekat pesantren ini terdapat sebuah goa, yang oleh penduduk sekitat disebut goa umbul . Menurut kepercayaan warga setempat, goa ini dulu dipergunakan oleh Sultan Maulana Hasanuddin untuk tafakur. 

Syekh Jamhari (salah satu teman syekh Astari),  menyaksikan bahwa Syekh Astari memasuki goa tersebut dan kemudian berdiam diri tanpa keluar satu patah katapun dari mulutnya. Kejadian ini kemudian oleh Syekh Jamhari dilaporkan kepada guru mereka Syek Jaliman. Syekh Jaliman kemudian meminta Syekh Jamhari untuk memeriksa keadaan Syek Astari setiap hari.

Setiap hari Syekh Jamhari datang ke goa umbul sambil membawa makanan untuk Syekh Astari, tapi beliau selalu mendapati bahwa makanan yang sudah dibawahnya tidak pernah disentuh oleh Syekh Astari. Kejadian tersebut terus berulang sampai emoat puluh hari empat puluh malam. Itulah salah satu karomah dari Syekh Astari, beliau sanggup tafakur selama empat puluh hari empat puluh malam.


Setelah beberapa tahun belajar di pesantren tersebut, Syekh Jaliman memerintahkan santri yang tertua di antara mereka yaitu Syekh Nawawi untuk pulang ke mandaya dan mendirikan pesantren. Serta memerintahkan delapan santri lainnya untuk nyantri di pesantren tersebut.

Syekh Nawawi adalah putera dari Syekh Muhammad Ali, salah seorang pejuang islam pada peristiwa geger cilegon (silahkan baca disini: Geger Cilegon 1888)

Para santri tersebut kemudian bahu membahu mendirikan pesantren dan juga berdakwah kepada masyarakat sekitar daerah mandaya. Hingga pesantrren Mandaya menjadi besar  dan termasyhur saat itu. Setelahnya maka delapan santri itu dipersilahkan untuk pulang ke daerah masing-masing dan mendirikan pesantren di daerahnya.



Ada satu hal yang harus kita kagumi dari Syekh Astari yaitu semangat beliau untuk menuntut ilmu. Dari kisah di atas sudah 3 tahap proses belajar yang beliau lewati, yaitu belajar kepada ayah dan pamannya, kemduaia belajar kepada Syekh Jaliman dan belajar kepada teman santrinya yaitu Syekh Nawawi. Tidak cuma sampai disitu, Syekh Astari pernah menyantren kepada Syaikh Piyan di Laes, Syaikh Misbah dan Syaikh Toyib di Koper, dan juga Ki Romli di Cideng, Kresek.

Sekitar tahun 1920 Syaikh Astari mendirikan pesantren di Cakung dan berdatanganlah para murid dari berbagai daerah. Syaikh Astari selain mengurusi pesantren hingga saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Di masa perjuangan, Syaikh Astari berperan sebagai motivator para pejuang. Ki Busyro mengisahkan bila tiba saatnya para tentara berperang, maka Syaikh Astari mempersiapkan gentong yang berisi air kemudian para tentara itu satu per satu diberi minum dan dimandikan agar hatinya bersih dan khlas dalam berperang, dan untuk menambah keberanian  para tentara

Sebelum kemerdekaan, Bung Karno mendatangi Syekh Astari untuk bersilaturahmi dan bermusyawarah mengenai bagaimana cara Indonesia cepat merdeka. Syekh Astari menyatakan Indonesia bisa merebut kemerdekaan dengan perjuangan dan do’a. Syekh Astari menyarankan kepada orang-orang yang mampu, untuk berhaji ke Makkah dan berdo’a di hadapan Ka’bah untuk kemerdekaan Indonesia.

No comments:

Post a Comment